Selasa, 25 Maret 2014

Tata Cara Wudhu Nabi - Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc

Dalam video ini kita dapat saksikan bagaimana praktek tata cara berwudhu yang benar sesuai sunnah Nabi Shalallahu "alaihi Wassalam. Tata cara wudhu di video ini dimulai dari doa yaitu doa sebelum wudhu, apa yang harus dilakukan dalam wudhu, dan doa setelah dan sesudah wudhu. bagaimanakah tata cara wudhu yang benar sesuai petunjuk Rasulullah Shalla Allahu 'alaihi wa sallam?

Senin, 24 Maret 2014

Mengenal syarat syahadatain La ilaha illallah



Ketika kita bersyahadatain dengan bersaksi la ilaha illallah harus dengan tujuh syarat, tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkanya, secara umum tuju syarat tersebut adalah sebagai berikut :
Syarat Pertama ‘ilmu (Mengetahui)
Artinya memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuanya dengan hal tersebut. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,





“…akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya).” (Az-Zukhruf:86)
Maksudnya orang yang bersaksi dengan la ilaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan oelh lisanya. Seandainya ia mengucapkannya tetapi tidak mengerti apa maknanya maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.
Syarat Kedua Yaqin (Yakin)
Orang yang mengikrakanya harus menyakini kandungan syahadat itu. Manakala ia meragukanya, maka sia-sia belaka persaksian itu. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman :



 Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu….” (Al-Hujurat:15)
Kalau ia ragu, maka ia menjadi munafik.

Syarat Ketiga Qabul (Menerima)
Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyembah Allah SUbhana wa Ta’ala semata dan meninggalkan ibadah kepada selainNya. Siapa yang mengucapkan tetapi tidak menerima dan menaati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah Subhana wa Ta’ala :


“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?.” (Ash-Shaffat:35-36)
Ini seperti halnya penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengikrarkan la ilaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum menerima makna la ilaha illallah.

Syarat Keempat Inqiyad (Tunduk dan Patuh dengan kandungan makna Syahadat)

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman :


“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”  (Luqman:22)

Al-‘Urwatul Wutsqa adalah la ilaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yangadu (patuh, pasrah).

Syarat Kelima Shidq (Jujur)
Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkanya. Manakala lisanya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah muanfik dan pendusta. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,




“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.  Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah :8-10)

Syarat Keenam Ikhlas

yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak bermaksud untuk mendapatkan isi dunia, riya’ atau sum’ah tatkala mengucapkanya, dalam hadist ‘itban, rasulullah shallahu’alaihi wa salam bersabda,
“sesungguhnya Allah mengaharamkan atas neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah karena menginginkan ridha Allah.” (HR. al-Buqhari dan Muslim)

Syarat Ketujuh Mahabbah (Kecintaan)
Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsenkuensinya. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman :





Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al-Baqarah:165)
Maka ahli tauhid mencintai Allah Subhana wa Ta’ala dengan cinta yang tulus dan bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah Subhana wa Ta’ala dan mencintai lainya.    
Semoga dengan kita makin kita memahami makna la ilaha illallah kita dapat memperbaiki diri kita dari kebodohan tersebut.

Referensi Bacaan :
Kitab Tauhid 1, Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan Al-Fauzan. Jakarta : Darul Haq
Judul Asli : At-Tauhid lish shaffil awwal al-ali

Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?

Bila kita ingin mengenal siapa mereka tentu kita harus tahu terlebih dahulu definisi dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini, mari kita runut dari kata As Sunnah menurut ulama ‘aqidah, As Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallahu’alihi wa salam dan para Sahabatnya Radhiallahuanhuma, baik dalam ilmu, I’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah As-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.[1]

Disebut Ahlus SUnnah, karena kuatnya mereka berpegang dan ber-ittiba’ (mengikuti) sunnah Nabi Shallahu’alaihi wasalam dan para Sahabatnya radhiallahu’anhuma.
Sedangkan Al-Jama;ah menurut ulama ‘aqidah adalah generasi pertama dari ummat ini, yaitu generasi para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari Kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran. [2]

Disebut Al-Jama’ah, karena mereka bersatu diatas kebenaran, tidak mau berpecah-pecah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan para Imam (yang berpegang kepada) al-haqq(kebenaran), tidak mau keluar dari jama’ah mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah. [3]
Jadi, AHlus SUnnah wal Jama’ah adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti SUnnah Nabi Shallahu’alaihi wasallam dan menjauhi perkara-perkara yang baru dan bid’ah dalam agama.

[1] Buhuuts fii ‘Aqidah Ahlis Sunnah (hlm.16)
[2] Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (II/20) oleh Ibnu Rajab al-Hanbalo dan Syarhul ‘Aqiidah al-Waasitiyyah (hlm 61) oleh Khalil Hirras dan lainya
[3]Mujmal Ushull Ahlis SUnnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqidah

Referensi Bacaan :
Yazid bin Abdul Qadir Jawas.(2013).Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Pustaka At-Taqwa

Sabtu, 22 Maret 2014

Mengenal Sebab-Sebab Penyimpangan Akidah

berikut ini beberapa sebab-sebab penyimpangan dari akidah shaihah yang harus kita ketahui yang diutarakan dalam kitab Tauhid karya Dr.Shalih Bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah diantaranya sebagai berikut:
Pertama, Kebodohan terhadap akidah shahihah, karena tidak mau (enggan) mempelajari dan mengajarkanya, atau karena kurangnya perhatian terhadapnya, sehingga tumbuh generasi yang tidak mengenal akidah sahihah dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikanya. Akibatnya, mereka meyakini yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil di anggap sebagi yang haq, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar Radhiyallahu'anhu

إِنَّمَا تُنْقَضُ عَرَى اْلإِسْلاَمِ عُرْوَةً إِذَا نَشَأَ فِى اْلإِسْلاَمِ مَنْ لاَ يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةَ

“Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kejahiliyahan.”

Kedua, Ta'ashshub (Fanatik) kepada sesuatu yang diwarisi dari bak dan nenek moyangnya, sekalipun hal itu batil, dan mencampakan apa yang menyalahinya, sekalipun hal itu benar sebagaimana yang difirmankan Allah Subhana Wa Ta'ala,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,' mereka menjawab, '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. '(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?' (Al-Baqarah: 170) .
Ketiga, Taqlid buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya. Sebagaimana yang terjadi pada golongan-golongan seperti Mu'tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka ber-taqlid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam sesat, sehingga mereka juga sesat, jauh dari aqidah shahihah. 
 
Keempat, Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih, serta mengangkat mereka di atas derajat yang semestinya, sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfaatan maupun menolak kemudharatan. Juga menjadikan para wali itu sebagai perantara antara Allah dan makhlukNya, sehingga sampai pada tingkat penyembahan para wali tersebut dan bukan menyembah Allah. Mereka bertaqarrub kepada kuburan para wali itu dengan hewan qurban, nadzar, do'a, istighatsah dan meminta pertolongan. Sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh Alaihissalam terhadap orang-orang shalih ketika mereka berkata:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرً

"Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr." [1] (Nuh: 23)
Dan demikianlah yang terjadi pada pengagung-pengagung kuburan di berbagai negeri sekarang ini. Semoga dengan kita mengetahui beberapa sebab-sebab penyimapngan akidah maka kita dapat menghindari dan menjauhi sebab-sebab tersebut.


Referensi bacaan :
Judul Asli : At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-'Ali,Syaikh Dr.Shalih Bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah
Edisi Indonesia
Kitab Tauhid 1, As Syaikh Dr.Shalih Bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, Penerjemah Agus hAsan Bashori, Lc : Darul Haq : Jakarta

[1] Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr adalah nama berhala-berhala yang terbesar pada kabilah-kabilah kaum Nabi Nuh, yang semula nama-nama orang shalih. (Al-Qur'an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI. pen.).

Follow by Email

Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Badge

Followers

 

© 2014 Gapura PangartiDesigned by Templateism

Back To Top